Beramal Tak Perlu Dikenal
Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman
MUNGKIN, belum lekang dari ingatan kita kisah seorang sholih yang enggan diketahui amal shalihnya yang begitu menakjubkan. Yang darinya, kita bisa mengambil pelajaran bahwasanya ketenaran bukanlah jalan yang diambil oleh para orang-orang hebat ini. Orang-orang yang meski jasa mereka sangat besar, namun tidaklah menjadikan dirinya takabbur dan menyombongkan diri. Bahkan, dirinya rela pergi jauh demi menjaga niatan dari amal shalih yang dilakukannya.
Itulah, jalan hidup yang dia ambil. Penuh dengan hikmah yang mendalam bagi siapa saja yang mau merenung lebih dalam atas apa yang dilakukan olehnya.
Sejarah itu, selalu berulang. Itulah mengapa kita bisa mempelajari sejarah untuk mengetahui tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Begitu pula, kebesaran hati orang-orang yang berjasa besar bagi umat Islam.
Mari kita membuka lembaran sejarah umat Islam terdahulu, berhentilah ketika sampai pada masa pemerintahan Khalifah Al Walid ibnu Abdul Malik.
Marilah kita membacanya. Kisah indah tentang kepahlawanan yang dibungkus dengan niat ikhlas karena Allah.
Maslamah ibnu Abdul Malik, adalah seorang panglima yang pemberani. Dia sangat takut kepada Allah, maka Allah memenangkan dia saat bersama umat Islam berperang dari satu peperangan ke peperangan lain di ketika saudaranya, Al Walid Ibnu Abdul Malik menjadi Khalifah.
Saat berperang melawan Romawi, Maslamah mengepung sebuah benteng besar. Akan tetapi, setelah berjuang keras untuk menyerang benteng ini, tetap saja tak bisa membukanya. Sedangkan pasukan Romawi, terus melempari mereka dengan api sehingga banyak pasukan muslim yang syahid. Hal ini juga menjadikan Maslamah serta pasukannya kesusahan untuk menembus benteng ini. Semua pasukan berpikir bagaimanakah caranya untuk mewujudkan kemenangan bagi Islam dan Muslimin.
Pagi selanjutnya, para pasukan melihat seorang prajurit yang mengenakan penutup wajah membelah pasukan muslimin dan mengarah ke benteng. Di tangannya terdapar sebuah kampak yang besar. Dia memukulkan kampaknya terus-menerus hingga membuat sebuah lubang di benteng dan membuatnya bisa masuk ke dalam benteng.
Dia juga membawa sebuah pedang yang digunakan untuk memukul musuhnya dari arah kanan dan kiri. Hingga ia sampai ke pintu benteng. Dan akhirnya dia membuka gembok serta pintu benteng sehingga pasukan Muslimin bisa masuk ke dalamnya bagaikan air yang mengalir. Mereka mampu menakut-nakuti pasukan Romawi, serta membuat kemenangan ada di pikhaknya.
Akhirnya, prajurit hebat itu mundur dan tak ada seorang pun yang melihatnya. Pimpinan pasukan ingin mengetahui tentang dirinya dan memberikan hadiah atas apa yang dia perbuat. Maka, diutuslah seorang pemanggil yang pergi menuju barisan pasukan dan memberitahukan bahwa pimpinan pasukan ingin bertemu dengan pembuat lubang di benteng tadi.
Setelah tiga hari, datanglah seorang lelaki ke tenda pimpinan pasukan dan berkata padanya, “Aku mengetahui siapakah yang membuat lubang di benteng, akan tetapu aku tak akan memberitahukannya sebelum dirimu berjanji atas nama Allah atas apa yang kuminta. Dan aku tak akan meminta apapun yang membuat Allah murka.” Maka, pimpinan pasukan pun menyetujuinya. Lelaki itu pun berkata, “Akulah yang membuat lubang di benteng. Dan permintaanku, janganlah kautanya namaku dan jangan pula dirimu mengikutiku untuk mengetahui ke mana aku akan pergi.”
Diriwayatkan bahwasanya Maslamah setiap selesai sholat berdoa, “Wahai Allah, kumpulkanlah diriku dengan pembuat lubang (di benteng).” [1]
Itulah satu lagi kisah menakjubkan yang bisa kita ambil pelajaran berharga darinya. Sebuah kisah tentang kepahlawanan, ketika sebagian orang yang mungkin ada pada posisi yang dirinya berada saat itu akan mudah baginya mendapatkan ketenaran dan upah yang besar atas apa yang dirinya lakukan.
Belum lagi, apa yang dilakukannya adalah salah satu perantara yang Allah jadikan dengannya kemenangan kaum Muslimin terwujud.
Namun, nyatanya orang hebat seperti dirinya tak haus akan ketenaran serta pujian dari manusia. Dirinya dengan sifat tawadhu’nya dengan tetap menjaga kerahasiaan dari dirinya hanya pergi ke tenda pimpinan pasukan dan mengatakan bahwa dirinyalah yang membuat lubang besar yang membuat pasukan Islam bisa masuk ke dalam benteng. Tanpa dirinya menyebut nama apalagi meminta bayaran atas apa yang dilakukannya.
Semoga apa yang dilakukannya ini bisa menjadi pelajaran penting bagi diri-diri kita, “Mengapa kita tak harus terkenal?”
***
Referensi:
[1] Potongan kisah dalam kitab “Silsilah ta’lim lughotil ‘arobiyyah; Qiro’ah jilid 04”